Sejarah nyadran tedhak tawing  desa Surokonto

Asal mula desa Surokonto berasal dari pendiri desa yang bernama Ki Joko Sura beliau merupakan senopati dari Kadipaten Surakarta. Berdasarkan sumber yang saya dapat bahwa beliau merupakan yang ikut dalam perang melawan belanda bersama pangeran Dipenogoro, ketika pangeran Diponegoro tertangkap di Malang. Karna pemimpin perang yang telah tertangkap dan tidak adanya yang memimpin peperangan maka beliau memutuskan untuk berkelana untuk memulai hidup yang baru. Sampai tiba di hutan tawing beliaulah yang membuka hutan tawing untuk membangun kehidupan yang baru, setelah membuka hutan beliau membuat pemukiman dan membentuk sebuah desa. Desa  tersebut beliau beri nama Surokonto, yang berasal dari kata Suro yang berasl dari tokoh tersebut dan memiliki arti kuat, Konto yang berarti berani. Namun tanah yang ada sangatlah tandus dan kering, karna itu beliau membuat saluran air untuk anak cucunya yang akan tinggal di desa yang ia bangun nantinya. Berdasarkan sumber yang saya dapatkan bahwa Ki Joko Sura memiliki kriss sakti dengan kriss tersebut beliau membuat saluran air menuju desa. Kemudian beliau merasa bahwa anak dan cucunya tidak mungkin hidup dengan air saja mereka membutuhkan makanan untuk hidup oleh karna itu beliau mencoba bercocok tanam dengan menanam padi. Namun tidak ada satupun bibit padi ia temukan. Ki Joko Sura mencari bibit padi di tempat yang sangat jauh. Hingga akhirnya ia mendapatkan bibit tersebut di desa Kali Terong. Namun, bibit tersebut padi tersebut, dengan mengatakan bahwa kelak jika bibit padi yang beliau tanam saat berbuahnya berambut, maka si pemilik padi tersebut harus percaya dengan Ki Joko Sura bahwa beliau tidak mencuri bibit padi miliknya. Karena bibit miliknya itu tak berambutbeliau peroleh dengan cara yang tidak baik, yaitu dengan mencuri milik warga sekitar. Hingga akhirnya warga tersebut merasa curiga kepada Ki Joko Sura. Kemudian ia mengikuti Ki Joko Sura hingga ke desa Suokonto. Namun Ki Joko Sura mencoba mengelak jika bibit padi yang ia dapat, bukan hasil dari mencuri milik orang tersebut. Ki Joko Sura mencoba mengelabuhi si pemilik. Namun sebaliknya, jika bibit yang Ki Joko Sura tanam tersebut saat berbuahnya tidak berambut, maka benar jika Ki Joko Sura telah mencuri bibit padi dari warga tersebut.

Dan ternyata bibit padi yang Ki Joko Sura tanam, saat berbuahnya tidak berambut. Sehingga mau tidak mau si pemilik padi tersebut harus percaya jika Ki Joko Sura tidak mencuri bibit padi miliknya. Berdasarkan cerita yang berkembang dalam masyarakat, diketahui jika pada saat membawa bibit padi tersebut. Bibit yang dibawa Ki Joko Sura jatuh tercecer disuatu tempat karena keranjang yang digunakan untuk membawa bibit tersebut berlubang, sehingga tempat tersebut diberi nama Sekecer. Untuk menghilangkan jejak dari si pemilik beliau gunakan unuk bibit yang dicurinya, Ki Joko Sura mencoba membuang keranjang yang membawa bibit padi tersebut. Tempat dimana keranjang tersebut dibuang diberi nama Sekranjang, yang lebih dikenal dusun Skranjang. Setelah saluran air jadi, kemudian daerah tersebut digunakan untuk bercocock tanam, muncul masalah lain lagi. Dimana saluran air yang dibuat oleh Ki Joko Sura terbentur oleh batu yang sangat besar, sehingga alirannya bengkok. Tempat dimana saluran airnya itu bengkok kemudian dinamai Pengkok, atau yang lebih dikenal dengan dusun Pengkok. Ketiga tempat tersebut merupakan dusun-dusun yang berada di desa Surokonto.

Setelah padi yang ditanam oleh Ki Joko Sura tumbuh subur dan hasil panennya saat itu melimpah, Ki Joko Sura mencoba mencari cara untuk mensyukuri hal tersebut. Hingga akhirnya beliau menemukan cara yaitu dengan mengadakan tradisi upacara semacam sedekah bumi, untuk mensyukuri keberhasilannya dalam membuat saluran air dan bercocok tanam. Tradisi upacara tersebut diberi nama Tedhak Tawing, mengapa diberi Tedhak Tawing, karena sebagian prosesinya dilakukan di tempat yang bernama Tawing. Tawing sendiri merupakan bagian dari saluran air yang dibuat oleh Ki Joko Sura.

Tujuan Tradisi Nyadran Tedhak Tawing

Pada dasarnya tradisi Nyadran Tedhak Tawing sebagai rasa syukur atas pembuatan saluran air dan pembuatan sawah di desa Surokonto tersebut, kemudian Ki Joko Suro mengadakan semacam upacara adat atau pesta rakyat, dengan menyembelih kerbau di tempat yang dinamakan Tedhak Tawing tersebut. Tradisi tersebut bertujuan untuk mensyukuri saluran air yang masih mengalir dan sangat bermanfaat bagi kelangsungan masyarakat desa Surokonto. Karena air tersebut masih bisa mengairi sawah-sawah milik masyarakat desa Surokonto. Selain itu untuk keperluan yang lainnya juga. Untuk saat ini, tradisi Nyadran Tedhak Tawing ini digunakan oleh masyarakat desa Surokonto sebagai suatu rasa syukur jika air yang bersumber dari Tedhak Tawing tersebut masih bisa menghidupi warga dan lingkungan sekitar desa Surokonto.

 

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.